samedi, août 26, 2006

Beda Persepsi


Sebentar lagi puasa. Jadi teringat puasa tahun lalu.

Puasa tahun lalu saya tiba-tiba jatuh sakit. Hari Senin pusing, Selasa mata saya buram, sorenya saya migrain dan sejak saat itu, untuk pertama kalinya, saya berurusan dengan rumah sakit dan dokter dalam jangka waktu yang begitu lama. Seorang saya ini, bukannya sombong, hampir tidak pernah berurusan dengan dokter, rumah sakit, jarum suntik.

Saya ini penikmat hidup. Dalam artian tidak pernah repot menahan makan untuk alasan estetika atau kesehatan. Saya pecinta jenis makanan yang berseberangan dengan kedua hal diatas. Saya juga pecinta olahraga. Hidup seimbang. Kehidupan yang pas buat saya.

Akhirnya saya merasakan juga yang namanya berurusan dengan sakit. Pertama kalinya merasakan opname, setiap hari periksa darah dan gula darah, sampai minum bermacam-macam jenis obat dalam sehari. Terus begitu hingga kurang lebih 4 bulan. Saya baru sembuh menjelang April 2006. Baru satu mata siy :)

Selama itu saya tidak bisa melihat dengan diagnosa penyakit uveitis. Peradangan di retina.


Sampai saat ini saya hanya bisa berucap syukur punya pengalaman hidup yang seperti itu. Kehilangan penglihatan, melawan ketakutan berhadapan dengan jarum suntik (setiap kali saya menangis saat berurusan dengan yang satu ini), dan yang paling sulit diterima adalah kehilangan segala daya untuk melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain.

Bukan. Bukan tidak bisa melihat yang menjadi masalahnya. Bukan penyakit masalahnya. Yang mengganggu pikiran saya, hal yang waktu itu bikin saya jadi menangis, adalah betapa menyedihkannya menjadi orang yang bergantung terus dengan orang lain. Rutinitas sehari-hari semacam baca sms, makan, atau buang air kecil nyaris tidak bisa saya lakukan sendiri. Saya tidak sampai hati melihat ibu saya tidak pernah berhenti mengurus semua keperluan saya dari hal kecil sampai besar. Tidak sampai hati melihat orang-orang terdekat dan tersayang jadi repot dan susah mengurus segala kebutuhan saya.

Penyakitnya…ummm ya sudahlah. Menjadi buta jelas bukan kehendak setiap manusia yang terlahir sempurna tanpa cacat. Tapi kalau ternyata tidak tersembuhkan dan harus menjadi buta sesungguhnya saya tidak peduli. Tidak ambil pusing. Terima saja. So be it...

Yang terpikir, mungkin tidak bisa melihat ada baiknya juga. Tidak perlu lagi melihat segala hal menyedihkan, ketidakadilan, dan kemunafikan yang ada disekitar kita, didunia. Ini seperti keadaan yang sering saya bayangkan setiap kali saya merasa lelah dengan dunia. Maunya menutup mata sambil tenggelam lalu hilang entah kemana. Wah, enaknya..

Selain menjadi tergantung kepada orang lain, yang paling menggangu adalah jengukan disertai ceramah ketuhanan..


Wejangan yang mengatakan “Sabar ya sama cobaan Tuhan” atau “Sabar ya lagi dicoba niy sama Tuhan”. Wuaaah…tampaknya saya dan orang-orang ini mempunyai Tuhan yang berbeda. Tuhan saya tidak sejahat Tuhan mereka itu. Tuhan saya baik dan saya menemukan kenyamanan bersama-Nya. Tuhan saya bukan Tuhan mereka yang pendendam. Tuhan saya sayang sama saya.

Bagaimana mungkin Tuhan menjahati saya secara Tuhan tidak putus mengirimkan malaikat-malaikatnya menemani saya. Tuhan tidak berhenti mengirimkan teman-teman yang buat saya terus tertawa. Tuhan tidak pernah berhenti mengirim segala kebaikan-Nya.

Waktu itu saya merasa nyaman. Seperti sedang dipangkuan dan ditutup matanya oleh Tuhan. Rasanya Dia bilang “Udah tutup mata aja, dunia memang jauh dari sempurna. Makanya jangan dilihat”


Saya bukan orang yang tegar. Saya kira ini hanya masalah perbedaan persepsi saja. Saya masih suka terharu kalau ingat beberapa teman dan saudara yang mengatakan mereka sempat menyiapkan mental sebelum menjenguk saya. Bersiap menghadapi saya yang jadi sensitive dan sedang tergeletak menangis.


Ternyata tidak. Saya tidak menangis karena penyakit itu (untuk hal lain seperti disuntik, iya). Bagi saya, banyak hal lain yang jauh lebih menyakitan yang dapat membuat saya menangis dan tidak kuat menghadapinya. Kehilangan sahabat dan bertengkar dengan ibu saya, misalnya.

Hanya bisa bilang terima kasih untuk segala bentuk kebaikan disaat saya tidak bisa memberikan hal yang sama kepada orang lain.

mardi, août 22, 2006

Manusia Mental Kacung

Lagi, saya mengalami kejadian yang sama. Lagi, saya harus berhadapan dengan manusia-manusia mental kacung. Lagi, saya hanya bisa menghela nafas saja (pastinya sambil geleng-geleng kepala supaya kelihatan bijak gituh :P) walau kadang, sangat jarang, saya protes juga.

Kejadiannya disebuah outlet sepatu. Niatnya beli sepatu. Seperti kebanyakan pembeli lainnya, saya mencoba berkali-kali sepatu yang saya inginkan. Dan seperti kebanyakan pembeli lainnya, saya berkali-kali meminta tolong, tentu saja dengan baik dan sopan, kepada Mas penjaga.

Sejak pertama saya masuk, si Mas ini memang tidak tersenyum. Tidak ramah kesannya. Begitupun ketika saya mulai meminta bantuannya. Karena masih belum merasa yakin saya berkali-kali meminta tolong ini dan itu. Setelah cukup lama, ternyata saya mendapati yang salah ternyata ukuran sepatunya yang tidak pas. Sayang, ukuran yang saya mau tidak ada dioutlet tersebut. Si Mas penjaga yang memang dari awal tidak pernah tersenyum menjadi jutek dan belaga tuli. Dengan muka jelek yang merusak pemandangan mata (secara mukanya memang tidak bagus juga untuk dilihat siy..) si Mas penjaga bilang “coba di Mall seberang”.

Beruntung, di outlet sepatu Mall seberang saya mendapat ukuran yang saya mau. Tapi, LAGI, kali ini si Mbak penjaga outlet sepatu seberang pun juga melayani dengan tidak tersenyum. Kesan yang sama dengan Mas penjaga outlet sepatu pertama, tidak ramah. Lagi, saya berhadapan dengan Mas penajga outlet Mall seberang yang sama juteknya dengan Mas penjaga outlet sepatu pertama. Kali ini karena kartu Debit saya dua kali menolak transaksi. Pada transaksi ketiga saya bilang “umm… mas linenya busy, tuh..”. Dengan muka tidak percaya si Mas penjaga tersebut buru-buru memastikan betul tidaknya yang tertulis di mesin kartu Debit benar “Line Busy”. Akhirnya, transaksi tersebut berhasil juga. Dengan menghela nafas panjang, saya pergi dari sana.

Lega, akhirnya selesai berurusan dengan manusia-manusia mental kacung.

Diluar atribut merek dagang-nya mungkin mereka sebenarnya berasal dari keluarga berada atau mungkin juga tidak. Sungguh, saya tidak tahu sama sekali. Tapi satu yang pasti, keberadaan mereka di Nike jelas tidak lebih hanya memberikan pelayanan yang baik untuk calon pembeli dan pembeli. Buat saya, sikap yang mereka tunjukan hanya menujukan kelas mereka. Kelas kacung. Kurang berpendidikan? Wah, enggak juga. Teman kuliah saya juga ada yang pernah menjadi mas penjaga di outlet tersebut, kok..

Jadilah saya berkesimpulan, mereka ini termasuk jenis manusia yang hanya bisa melihat keatas. Lupa dengan yang dibawah dan pastinya lupa dengan banyak hal yang jauh lebih baik diatas mereka. Mereka, tanpa sadar telah menjadi kacung manusia-manusia yang mereka anggap lebih. Tersenyum kepada manusia-manusia lebih, yang memandang mereka tak lebih dari kacung.

Kasihan..

dimanche, août 20, 2006

Yang Tidak Terbeli


Tahun-tahun belakangan ini, teman-teman pelan tapi pasti mulai terlihat menjadi individualis, mulai terfokus pada hidupnya masing-masing, pekerjaan sampai mencari pasangan untuk diajak kepelaminan. Satu persatu mulai menghilang. Memenuhi garis hidup nya.

Karena semua manusia (katanya) akhirnya berpasang-pasangan, Tampaknya saat ini saya harus siap kehilangan seorang sahabat. Kurang lebih lima tahun sahabatan, susah juga harus beradaptasi disituasi yang tidak menyenangkan seperti ini.

Menghasilkan teori-teori kehidupan yang hanya bisa dimengerti kita berdua, obrolan panjang disetiap perjalanan yang kerapkali berakhir dengan tersasar entah dibelahan bumi Jakarta bagian mana, mimpi-mimpi pergi jalan jauh, berlibur (yang akhirnya tidak akan pernah terwujud), menghadiri pernikahan berdua sementara teman-teman yang lain datang dengan pasangan yang berbeda dan kadang akhirnya datang dengan undangan pernikanan, melewatkan begitu banyak saat bersama tanpa tujuan jelas yang sering saya sebut 'waktu yang tidak akan pernah terbeli dengan uang'..

Hubungan yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar pacaran. Tidak terbebani aturan dan keharusan yang mencekik. Hanya kebersamaan yang tidak menuntut lebih.

samedi, août 19, 2006

Kalau Ingat Dulu


Kemarin saya baru bertemu teman lama. Rasanya senang sekali..sampai sekarang masih terbayang-bayang.


Pertemuan pertama sekaligus terakhir kurang lebih dua tahun yang lalu. Waktu itu kita teman satu rumah. Sama-sama terdampar dilantai atas. Dan sama-sama merasa 'terjajah' oleh, yuk mari kita sebut saja, bapak kos yang galak. Huahahaha...

Dua minggu yang menyenangkan. Seru. Kalau diingat jadi ketawa-ketawa sendiri. Banyak cerita lucunya, mulai dari saya nyaris menabrak dan terjugkir balik dioxford street karena mendadak muncul bangku ditrotoar waktu kita lari-lari mengejar double decker merah rese yang tidak mau menunggu penumpang yang, seharusnya, terlihat dikaca sedang berlari menuju bis (bukan supir metromini, memang), celaan abadi 'cewek enggak bakat cantik' buat saya (yang ini tak terlupakan..haha), seharian ngegeratakin kamar dia karena mau online, sampai muncul dikamar setiap jam 7 pagi dengan alasan mulia, bangunin kuliah, padahal siy mau pakai telponnya..

Lucu ya? Dua kepribadian yang beda, jadi satu hanya karena situasi dan tempat. Saya yang spontan, dia yang terencana. Saya yang tidak peduli kata orang, dia yang sangat sebaliknya.
Heran...

Tuh, saya jadi senyum-senyum lagi kan...
Senangnya..senangnya:)

jeudi, août 17, 2006

Seandainya Bisa Terus..


Hari ini ,lagi-lagi, saya merasa lelah.

Pada saat dunia terasa begitu melelahkan dan berjalan dengan tidak semestinya, saya pun hanya bisa menarik dan menghela napas yang panjang lalu menutup mata. Seringkali saya terdiam dan melihat ilustrasi yang sama menari-nari dikepala.

Pada saat itu yang terbayang selalu gambar yang sama. Gambaran seorang saya yang sedang menutup mata, tertidur, tapi sepenuhnya tersadar sedang melayang pelan jatuh kedalam air yang gelap dengan sedikit cahaya sinar matahari yang memudar. Pada saat itu , saya tidak melihat dan tidak juga mendengar. Tapi, saya bisa merasakan nyaman.
Gambar itu selalu tidak pernah ada akhirnya, karena saya memang berharap untuk terus bisa berada dalam keadaan itu. Sayang, selalu saja terpaksa saya harus membuka mata. Kembali lagi...

Sesungguhnya bukan hanya hari ini. Selama ini saya memang sudah sangat lelah.
Sungguh lelah..

mardi, août 15, 2006

Kenapa Angka 8 dan 9 Lebih Baik Dari Angka 10?


Pernahkah terpikir untuk menjadi sempurna? Haduh, saya pernah tapi tidak lagi. Saya takut. Sumpah..

Teringat ketika dulu masih dibangku SD, saya pernah mendapat nilai 10 untuk ulangan IPS karena bisa menjawab semua pertanyaan nama seluruh ibukota di Indonesia. Wah, sempuna sekali. Waktu itu rasanya bangga jadilah pamer kesana kesini kepada teman dan pastinya seseorang yang tidak boleh melewati waktu (yang jarang terjadi) itu, mamah.

Tapi sebenarnya pada saat itu pun saya merasakan kejanggalan, entah mengapa. Rasanya ada yang salah..

Beranjak dewasa, meninggalkan bangku SD hingga akhirnya sampai di bangku kuliah, saya terus merasakan kejanggalan itu. Setiap kali mendapat nilai 10 atau nilai lain yang artinya sama dengan 10 (baca: sempurna) saya tidak bisa merasakan kebahagian yang sama seperti ketika mendapat nilai 8 atau 9.

Angka 10. Untuk sebuah nilai ulangan, 10 artinya benar semua. Benar semua sama dengan Sempurna. Sempurna sama dengan menakutkan, bagi saya.

Menakutkan karena kesempurnaan seringkali menggiring kita menjadi manusia yang sombong. Menjadi sombong sampai lupa diri merasa kita sudah benar. Merasa sudah benar sampai akhirnya berhenti belajar. Padahal berhenti belajar sebenarnya saat dimana manusia mengalami kemuduran atau mungkin jalan ditempat.
Berhenti jalan ke depan.

Ini sama hal ketika saya pernah bertanya kepada seorang teman tentang pencerahan hidup. Dia bilang “Sekarang ini saya sudah tercerahkan kok..”

Saya dan seorang teman lainnya punya pendapat yang berbeda. Manusia pada dasarnya tidak akan pernah tercerahkan. Dalam artian waktu belajar manusia yang terlalu singkat akhirnya membuat manusia kehabisan waktu untuk terus belajar, terus mencari pencerahan. Padahal terlalu banyak pelajaran yang belum sempat kita pelajari dan mengerti. Tapi mau bilang apa? waktunya sudah habis.

Nah, angka 8 dan 9 lebih baik dari pada 10 karena apa hayooooh.....:)

lundi, août 14, 2006

Yiuk Berubah


Duh kemarin saya baru saja berdebat dengan seorang teman tentang bagaimana semestinya kita bersikap pada saat kita terinjak-injak. Setelah terus berdebat bolak-balik dengan alasan yang sama akhirnya saya putuskan untuk menyerah saja. Habis capek, terus berputar-putar dengan alasan yang sama akhirnya kesimpulannya itu-itu lagi...capek kan??

Saya bilang seharusnya setiap orang bisa melakukan suatu perubahan agar hidupnya lebih maju. Salah satunya ya speak up...apa lagi untuk suatu ketidakadilan.

Teman saya mulai mengatakan hal ini dan itu yang intinya (menurut saya) tidak lebih dari kebiasaan kebayakan para melayu. Bahwa itu semua tergantung individunya masing-masing. Karena tidak semua orang bisa mengekspresikan dan menyuarakan isi hatinya. Dan karena semua orang berbeda...

Yeah right!! betapa menyebalkan..mengatas namakan perbedaan untuk pembenaran atas kebiasaan bodoh yang tanpa sadar terlestarikan turun temurun.
Kebiasaan orang melayu..apalagi kalo bukan ngedumel-dumel dibelakang dan tersenyum palsu didepan...

Jenis yang seperti ini yang sering kali membuat saya ingin menutup mata, tertidur, dan melupakan betapa banyaknya ketidak adilan yang terus berlangsung diluar sana...

Padahal semua orang bisa merubah nasibnya bila dia berusaha. Semua orang bisa merubah jalan hidupnya bila dia mau berubah..

Menunggu orang lain menyuarakan isi hati, menolong, lalu mengekor dibelakangnya dan belaga pilon pada saat segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya...ckckck tahun 2006 looooh!!!!... perubahan bukan dosa hukumnya dan seandainya perubahan adalah dosa..yyyyiuk mari berubaaaaah:)

Ya sudahlah akhirnya saya menyerah saja. Demi perbedaan..(sambil geleng-geleng kepala belaga bijak..)

jeudi, août 10, 2006

Ngobrol Lagi


Beberapa waktu yang lalu seorang teman pergi meninggalkan saya. Waktu itu rasanya sedih sekali. Dalam hati hanya bisa marah dan terus bertanya bagaimana mungkin teman bisa meninggalkan teman?

Yang saya tahu, saya kecewa melihat bagaimana dia berekasi pada suatu masalah yang kebetulan ada sangkut pautnya dengan saya. Dan lebih kecewa lagi ketika untuk kedua kalinya merusak kepercayaan saya kepadanya.

Waktu itu emosi begitu meletup-letup hingga rasanya tidak bisa memberi penjelasan. Mulut terasa terlalu kelu untuk berbicara..apalagi mau membahas... ?

Waktu itu saya cuma berharap, mudah-mudahan kita bisa berteman seperti dulu lagi, ngebahas film-film aneh seperti 'Before Sunset', atau hal-hal lain yang mungkin terlihat norak dan bodoh..

Tapi hari ini tiba-tiba dia muncul di messenger dan begitu saja kita kembali seperti dulu, ngobrol..:)

Tulis Menulis


Perdana blogging..ha:)

Disuatu hari pada perbincangan curahan hati yang kesekian kalinya dengan mr.d, terlontarlah ide untuk menulis darinya.
mr.d: 'coba nulis deh, blogging..'.
Saya: 'haduuh, paling enggak bisa nulis'.
curiganya..jangan-jangan ini cara halusnya dia menghindar jadi tong sampah:) ha..ha..

Tulis menulis umm.. menarik..tapi entah mengapa saya bukan orang yang mahir dalam hal tersebut bahkan dalam bentuk yang paling mudah, buku harian.

Namun akhirnya, hari ini saya memutuskan untuk mulai menulis...entah untuk sampai kapan..