Sebentar lagi puasa. Jadi teringat puasa tahun lalu.
Puasa tahun lalu saya tiba-tiba jatuh sakit. Hari Senin pusing, Selasa mata saya buram, sorenya saya migrain dan sejak saat itu, untuk pertama kalinya, saya berurusan dengan rumah sakit dan dokter dalam jangka waktu yang begitu lama. Seorang saya ini, bukannya sombong, hampir tidak pernah berurusan dengan dokter, rumah sakit, jarum suntik.
Saya ini penikmat hidup. Dalam artian tidak pernah repot menahan makan untuk alasan estetika atau kesehatan. Saya pecinta jenis makanan yang berseberangan dengan kedua hal diatas. Saya juga pecinta olahraga. Hidup seimbang. Kehidupan yang pas buat saya.
Akhirnya saya merasakan juga yang namanya berurusan dengan sakit. Pertama kalinya merasakan opname, setiap hari periksa darah dan gula darah, sampai minum bermacam-macam jenis obat dalam sehari. Terus begitu hingga kurang lebih 4 bulan. Saya baru sembuh menjelang April 2006. Baru satu mata siy :)
Selama itu saya tid
ak bisa melihat dengan diagnosa penyakit uveitis. Peradangan di retina.Sampai saat ini saya hanya bisa berucap syukur punya pengalaman hidup yang seperti itu. Kehilangan penglihatan, melawan ketakutan berhadapan dengan jarum suntik (setiap kali saya menangis saat berurusan dengan yang satu ini), dan yang paling sulit diterima adalah kehilangan segala daya untuk melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain.
Bukan. Bukan tidak bisa melihat yang menjadi masalahnya. Bukan penyakit masalahnya. Yang mengganggu pikiran saya, hal yang waktu itu bikin saya jadi menangis, adalah betapa menyedihkannya menjadi orang yang bergantung terus dengan orang lain. Rutinitas sehari-hari semacam baca sms, makan, atau buang air kecil nyaris tidak bisa saya lakukan sendiri. Saya tidak sampai hati melihat ibu saya tidak pernah berhenti mengurus semua keperluan saya dari hal kecil sampai besar. Tidak sampai hati melihat orang-orang terdekat dan tersayang jadi repot dan susah mengurus segala kebutuhan saya.
Penyakitnya…ummm ya sudahlah. Menjadi buta jelas bukan kehendak setiap manusia yang terlahir sempurna tanpa cacat. Tapi kalau ternyata tidak tersembuhkan dan harus menjadi buta sesungguhnya saya tidak peduli. Tidak ambil pusing. Terima saja. So be it...
Yang terpikir, mungkin tidak bisa melihat ada baiknya juga. Tidak perlu lagi melihat segala hal menyedihkan, ketidakadilan, dan kemunafikan yang ada disekitar kita, didunia. Ini seperti keadaan yang sering saya bayangkan setiap kali saya merasa lelah dengan dunia. Maunya menutup mata sambil tenggelam lalu hilang entah kemana. Wah, enaknya..
Selain menjadi tergantung kepada orang lain, yang paling menggangu adalah jengukan disertai ceramah ketuhanan..
Wejangan yang mengatakan “Sabar ya sama cobaan Tuhan” atau “Sabar ya lagi dicoba niy sama Tuhan”. Wuaaah…tampaknya saya dan orang-orang ini mempunyai Tuhan yang berbeda. Tuhan saya tidak sejahat Tuhan mereka itu. Tuhan saya baik dan saya menemukan kenyamanan bersama-Nya. Tuhan saya bukan Tuhan mereka yang pendendam. Tuhan saya sayang sama saya.
Bagaimana mungkin Tuhan menjahati saya secara Tuhan tidak putus mengirimkan malaikat-malaikatnya menemani saya. Tuhan tidak berhenti mengirimkan teman-teman yang buat saya terus tertawa. Tuhan tidak pernah berhenti mengirim segala kebaikan-Nya.
Waktu itu saya merasa nyaman. Seperti sedang dipangkuan dan ditutup matanya oleh Tuhan. Rasanya Dia bilang “Udah tutup mata aja, dunia memang jauh dari sempurna. Makanya jangan dilihat”
Saya bukan orang yang tegar. Saya kira ini hanya masalah perbedaan persepsi saja. Saya masih suka terharu kalau ingat beberapa teman dan saudara yang mengatakan mereka sempat menyiapkan mental sebelum menjenguk saya. Bersiap menghadapi saya yang jadi sensitive dan sedang tergeletak menangis.
Ternyata tidak. Saya tidak menangis karena penyakit itu (untuk hal lain seperti disuntik, iya). Bagi saya, banyak hal lain yang jauh lebih menyakitan yang dapat membuat saya menangis dan tidak kuat menghadapinya. Kehilangan sahabat dan bertengkar dengan ibu saya, misalnya.
Hanya bisa bilang terima kasih untuk segala bentuk kebaikan disaat saya tidak bisa memberikan hal yang sama kepada orang lain.
