Lagi, saya mengalami kejadian yang sama. Lagi, saya harus berhadapan dengan manusia-manusia mental kacung. Lagi, saya hanya bisa menghela nafas saja (pastinya sambil geleng-geleng kepala supaya kelihatan bijak gituh :P) walau kadang, sangat jarang, saya protes juga.
Kejadiannya disebuah outlet sepatu. Niatnya beli sepatu. Seperti kebanyakan pembeli lainnya, saya mencoba berkali-kali sepatu yang saya inginkan. Dan seperti kebanyakan pembeli lainnya, saya berkali-kali meminta tolong, tentu saja dengan baik dan sopan, kepada Mas penjaga.
Sejak pertama saya masuk, si Mas ini memang tidak tersenyum. Tidak ramah kesannya. Begitupun ketika saya mulai meminta bantuannya. Karena masih belum merasa yakin saya berkali-kali meminta tolong ini dan itu. Setelah cukup lama, ternyata saya mendapati yang salah ternyata ukuran sepatunya yang tidak pas. Sayang, ukuran yang saya mau tidak ada dioutlet tersebut. Si Mas penjaga yang memang dari awal tidak pernah tersenyum menjadi jutek dan belaga tuli. Dengan muka jelek yang merusak pemandangan mata (secara mukanya memang tidak bagus juga untuk dilihat siy..) si Mas penjaga bilang “coba di Mall seberang”.
Beruntung, di outlet sepatu Mall seberang saya mendapat ukuran yang saya mau. Tapi, LAGI, kali ini si Mbak penjaga outlet sepatu seberang pun juga melayani dengan tidak tersenyum. Kesan yang sama dengan Mas penjaga outlet sepatu pertama, tidak ramah. Lagi, saya berhadapan dengan Mas penajga outlet Mall seberang yang sama juteknya dengan Mas penjaga outlet sepatu pertama. Kali ini karena kartu Debit saya dua kali menolak transaksi. Pada transaksi ketiga saya bilang “umm… mas linenya busy, tuh..”. Dengan muka tidak percaya si Mas penjaga tersebut buru-buru memastikan betul tidaknya yang tertulis di mesin kartu Debit benar “Line Busy”. Akhirnya, transaksi tersebut berhasil juga. Dengan menghela nafas panjang, saya pergi dari sana.
Lega, akhirnya selesai berurusan dengan manusia-manusia mental kacung.
Diluar atribut merek dagang-nya mungkin mereka sebenarnya berasal dari keluarga berada atau mungkin juga tidak. Sungguh, saya tidak tahu sama sekali. Tapi satu yang pasti, keberadaan mereka di Nike jelas tidak lebih hanya memberikan pelayanan yang baik untuk calon pembeli dan pembeli. Buat saya, sikap yang mereka tunjukan hanya menujukan kelas mereka. Kelas kacung. Kurang berpendidikan? Wah, enggak juga. Teman kuliah saya juga ada yang pernah menjadi mas penjaga di outlet tersebut, kok..
Jadilah saya berkesimpulan, mereka ini termasuk jenis manusia yang hanya bisa melihat keatas. Lupa dengan yang dibawah dan pastinya lupa dengan banyak hal yang jauh lebih baik diatas mereka. Mereka, tanpa sadar telah menjadi kacung manusia-manusia yang mereka anggap lebih. Tersenyum kepada manusia-manusia lebih, yang memandang mereka tak lebih dari kacung.
Kasihan..
