jeudi, septembre 28, 2006

Sakit

Hari kelima puasa saya jatuh sakit. Dua hari sebelumnya baru cabut gigi geraham. Rasanya senang sekali akhirnya berani mengambil langkah yang, buat saya, tidak akan pernah terjadi seumur hidup. Lagi senang-senangnya saya malah demam tinggi. Sakit lagi. Kali ini cukup membuat saya dan ibu saya teringat sakit tahun lalu. Jadilah saya dibawa ke UGD segala. Di ambil darah, takut-takut bukan hanya demam karena infeksi gigi. Ternyata hasil darahnya normal. Alhamdulillah.

Tahun 2006 jadi tahun yang cukup menyenangkan buat saya. Banyak terjadi perubahan-perubahan berarti dalam hidup saya. Cabut gigi dan berhadapan dengan jarum suntik dua hal yang saya pikir tadinya tidak akan pernah saya bisa lewati. Dulu saya bersumpah akan terus menjalani hidup sehat supaya bisa melewati yang dua itu. Yah, memang tidak sehat-sehat sekali, paling tidak mencari-cari penyakit dengan cara merokok atau minum alkohol. Bukan karena alasan agama tapi karena kesehatan, tak lebih. Selain tidak merokok dan minum alkohol saya rutin berolahraga dari basket, fitness, dan berenang (untuk yang terakhir saya betul-betul jagonya, enggak bohong). Karenanya saya tidak pernah menghindar dari segala makanan enak yang seringkali disebut ibu saya 'makanan berkolesterol tinggi'. Toh, semuanya terbakar keluar lewat keringat tidak menumpuk menjadi lemak-lemak.

Tapi ternyata penyakit ternyata bisa datang dari mana saja. Penyakit yang saya derita dari tahun lalu hingga sekarang ini, uveitis, datangnya bukan dari luar tapi justru dari dalam badan sendiri, dari immunitas yang bereaksi berlebihan. Bingung, kan? Immunitas yang seharusnya melawan penyakit dari luar malah menyerang saya sendiri. Seorang teman (yang saya amat rindukan) mengatakan "Yer body hates you".

Dibenci badan sendiri. Sedih mendengarnya. Namun dibalik itu semua saya banyak mendapat pelajaran dan hikmah. Salah satunya menghadapi ketakutan terbesar saya, jarum suntik. Sejak penghujung tahun lalu hingga sekarang hidup saya tak lebih dari berhdapan dengan jarum suntik. Dari jutaan tes darah dan gula darah yang awalnya dilewati dengan ketakutan yang luar biasa, dengan menutup mata, memeluk ibu saya, sampai akhirnya mengalami yang namanya disuntik dipipi tepat dibawah mata dengan syarat tidak boleh menutup mata. Dengan kata lain saya terpaksa harus melihat jarum suntiknya datang mendekati mata saya. Untuk yang ini saya benar-benar ketakutan. Waktu itu menangis pun sudah tidak sadar. Yang saya tahu muka saya basah kuyup barulah tersadar saya sedang menangis tanpa suara.

Sekarang saya sudah tidak terlalu takut dengan jarum suntik. Takut tentu saja masih ada tapi tidak seperti dulu. Sekarang saya sudah bisa sendirian. Tidak perlu ditemani ibu saya lagi. Karenanya kemarin tanpa rencana saya minta gigi saya dicabut. Dokternya ikut senang. Karena si gigi gingsul itu sudah sejak dahulu disarankannya untuk dicabut.

Jadi ternyata ada benarnya ungkapan yang mengatakan ketakutan harus dihadapi langsung, jangan dihindari. It works.

Sakit. Bagi sebagian orang merupakan cobaan dan hukuman tuhan. Buat saya hadiah dari Tuhan yang menyenangkan. Mengingatkan kita untuk selalu beryukur dengan nikmat yang sudah ada. Karena selalu ada pelajaran berharga dibalik segala hal yang dari luar terlihat tidak menyenangkan. Walaupun kadang sulit.

jeudi, septembre 21, 2006

Saat Kehabisan Waktu

Belakangan ini waktu jadi hal yang berharga buat saya. 24 jam rasanya tidak cukup untuk melakukan banyak hal. Terbangun jam 5 pagi terus beraktifitas tanpa henti sampai mejelang larut malam masih juga belum cukup.

Sibuk..

Tenggelam dalam kesibukan adalah hal yang menyenangkan. Menghasilkan sesuatu menjadi suatu kepuasan tersendiri tanpa peduli penilaian orang lain. Dalam kesibukan kadang saya bersembunyi dari masalah pribadi. Mencoba melupakan banyak hal yang menusuk hati seperti misalnya teracuh dari orang terdekat (or you thought so). Walaupun rasanya jadi semakin sepi memang. Terasing.


Busy. My other kind of self defense mechanism
.

Seandainya bisa membeli waktu untuk sejenak menghela napas, kembali bersenang-senang bersama lagi, tertawa terbahak-bahak, becanda, membereskan masalah, dan mengatakan bahwa sesungguhnya....

Aaaaah!!!! hanya untuk yang kali ini sebenarnya saya ingin berhenti sejenak saja. Mencuri celah waktu untuk berbenah..



Youre there but not here with me...

samedi, septembre 16, 2006

Bolehkah?

Anda tahu rasanya tidak bisa melihat? Repot.
Anda tahu rasanya mengerjakan rangkuman English Morphology sebagai nilai final test? Menyebalkan.
Anda tahu rasanya menjalankan keduanya secara bersamaan? Tersiksa.
Anda tahu rasanya dinyatakan tidak lulus setelah menjalani siksaan macam itu? Bangke'!!.

Setahun kemudian (160906) ....

Dosen : "Mata anda sudah sembuh ya?"
Saya : "Alhamdulillah sudah, tapi baru yang kanan saja, Mam"
Dosen : "Dulu tugas kamu kok saya tidak terima ya?"
Saya : "Umm..maksud Ibu? Waktu itu tugasnya sudah saya titpkan sama pak (.....) di jurusan"
Dosen : "Enggak, saya tidak terima. Kemarin saya beri nilai apa ya?"
Saya : "E.."
Dosen : "Ooh iya, soalnya saya tidak dapat tugas akhir kamu"
Saya : "Tapi saya sudah titip sama pak (.....) di jurusan, Mam?"
Dosen : "Saya tidak menerima titipan apapun dari jurusan"
Saya : "............."

Aku ingin membunuh mereka yang entah mengapa mencari kebahagiaan dengan menyulitkan orang lain. Manusia-manusia busuk dan jahat. Begitu banyak berserakan dan terselip disegala penjuru kehidupan. Aku sungguh ingin mematikan mereka itu. For a better life.

Bolehkah?....

vendredi, septembre 15, 2006

Slaps in My Face

kalo enggak bete, marah, kesel..

lain kali bilang sama (....), cuma orang yang punya isi yang bisa ngomong!!!

you can actually do something wit yer life...

..yah kalo kuliahnya di (...) pantes

ngingetin kalo tuhan tuh!!...

(...) bilang juga apa!!!

elo yang bilang!! makanya gw taro disini!

well.. you said yer not talkin to me

bete melulu?

makanya shalat..

gw bilang juga apa!!!

ada berapa!!!!!!

yah kaya elo gitu siy gw males..lo tu anti sama yang kaya..

ya udah!!

that is why you have to let me knoooow!!!!!

makanya (....) yang paling tau!!

jangan manja deh!!

kaya anak kecil aja pake berantem segala

oh ya gw dan adik gw saling menyayangi tidak seperti kebanyakan orang lain..kasian tu orang-orang..

ow you people, be grateful for your life is so perfect.
aint got such wonderful life..
forgive me..
it'll be nice if you guys stop judging like you know things better ..
ach ya..do you know that stop bitchin like a biatch could actually make world a lil better to live? and so does a smile :)

exhalin a bloody deeeeeeeeep breath......
floatin and dissapearin into the darkness mode: on


ps: frere, desolee. je te manque

dimanche, septembre 10, 2006

Belajar Lebih Banyak Lagi


Saya baru pulang dari pernikahan teman kecil sejak TK. A nice one. Disana banyak bertemu teman kecil lainnya. Manusia-manusia dari masa lalu. Salah satunya sahabat saya, mantannya pengantin pria, yang sedang mengandung anak keduanya. Walah...


Jadi sempat terbersit "kapan ya, gue?".
Oops...tapi cepat tersadar kembali.

Setahun yang lalu, saya begitu siapnya menikah. Belajar makan sayur supaya nanti ASI-nya banyak (aduh malu...xp). Itu belum termasuk kompor dan kasur yang saya cari-cari. Ceritanya siap-siap. Sekarang, saya tidak ingin lagi. Berhenti program makan sayur dan peduli setan dengan kompor. Tinggal kasur yang masih terus dicari:).

Konsep pernikahan yang ada menakutkan. Membayangkan terikat dengan seseorang yang salah. Terkukung dengan segala aturan yang dianggap benar dan dibenarkan oleh masyarakat. Berurusan dengan bentuk-bentuk basa-basi busuk saat berhadapan dengan keluarga pasangan. Waks..
Keturunan... Duh, keinginan pasangan, mertua dan orang tua. Permintaan dengan alasan-alasan umum seperti ingin segera menimang cucu, sudah seharusnya punya anak, atau menghindari dari gunjingan orang-orang (entah siapapun juga dan apa juga maksudnya?). Atau demi alasan tolol seperti "anak yang akan mengurus kita nanti di hari tua". Anak sama dengan investasi?... Atau alasan yang paling lucu adalah LUCU. Sering dengarkan? "wuaa anak ini LUCU sekaliii jadi pingin punya anaaaaak" (dengan intonasi manja yang bisa disesuaikan sendiri). Badut kali?....

Saat ini, saya jadi ingin melewati dua siklus kehidupan itu. Bukannya tidak mau tapi gimana ya? Saya ingin, tapi lebih besar rasa takutnya.

Menikah bukan perkara mudah. Tanggung jawabnya besar. Diluar itu semua, menemukan seseorang yang bisa diajak melangkah memikul tanggung jawab dengan tingkat kesulitan yang tinggi juga sulit. Saya sedang menyerah pada ketakutan.

Pernikahan sebagai sebuah legalisasi untuk hidup dan jalan besama dengan seorang teman. Seorang teman untuk berbagi kehidupan. Hanya berduaan.

Karenanya menikah masih lebih baik ketimbang mempunyai anak. Duh, saya begitu sayangnya dengan anak-anak kecil itu. Malaikat kecil yang polos, tanpa beban, tanpa topeng kehidupan. Pernah merasa begitu bahagia saat berhasil membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal?. Saya rela dan sering berlagak tolol hanya sekedar untuk melihat mereka tergelak-gelak:)

Tetap saja keinginana keinginan memiliki satu atau dua makhluk-makhluk itu saya tepis jauh-jauh. Saya takut. Atas nama cinta dan kasih sayang orang tua menjaga buah hatinya. Tapi pernah terpikir seandainya suatu saat nanti, sebagai orang tua, mendapati cinta dan kasih sayang sayang yang anda pikir terbaik untuk anak anda ternyata tidak untuk mereka. Saya terlalu takut seandainya nanti saya harus mengalaminya. Saya tidak siap menjadi orang tua. Saya belum siap menjadi panutan. Saya takut makhluk-makhluk kecil itu kecewa...

Menghadapi dua siklus ini, saya benar-benar masih harus belajar lebih banyak lagi tentang hidup.


Speak to us of Children.
You may give them your love but not your thoughts, for they have their own thoughts.
(Kahlil Gibran. The Prophet)

lundi, septembre 04, 2006

Not a Poem


Terbangun dengan rasa sesak didada.
Memulai pagi dengan tidak semangat.
Hari yang sepi.
Kosong.
Saya begitu lelahnya.
Ingin menutup mata lagi.
Sambil menghela napas panjang.