Saya baru pulang dari pernikahan teman kecil sejak TK. A nice one. Disana banyak bertemu teman kecil lainnya. Manusia-manusia dari masa lalu. Salah satunya sahabat saya, mantannya pengantin pria, yang sedang mengandung anak keduanya. Walah...
Jadi sempat terbersit "kapan ya, gue?".
Oops...tapi cepat tersadar kembali.
Setahun yang lalu, saya begitu siapnya menikah. Belajar makan sayur supaya nanti ASI-nya banyak (aduh malu...xp). Itu belum termasuk kompor dan kasur yang saya cari-cari. Ceritanya siap-siap. Sekarang, saya tidak ingin lagi. Berhenti program makan sayur dan peduli setan dengan kompor. Tinggal kasur yang masih terus dicari:).
Konsep pernikahan yang ada menakutkan. Membayangkan terikat dengan seseorang yang salah. Terkukung dengan segala aturan yang dianggap benar dan dibenarkan oleh masyarakat. Berurusan dengan bentuk-bentuk basa-basi busuk saat berhadapan dengan keluarga pasangan. Waks..
Keturunan... Duh, keinginan pasangan, mertua dan orang tua. Permintaan dengan alasan-alasan umum seperti ingin segera menimang cucu, sudah seharusnya punya anak, atau menghindari dari gunjingan orang-orang (entah siapapun juga dan apa juga maksudnya?). Atau demi alasan tolol seperti "anak yang akan mengurus kita nanti di hari tua". Anak sama dengan investasi?... Atau alasan yang paling lucu adalah LUCU. Sering dengarkan? "wuaa anak ini LUCU sekaliii jadi pingin punya anaaaaak" (dengan intonasi manja yang bisa disesuaikan sendiri). Badut kali?....
Saat ini, saya jadi ingin melewati dua siklus kehidupan itu. Bukannya tidak mau tapi gimana ya? Saya ingin, tapi lebih besar rasa takutnya.
Menikah bukan perkara mudah. Tanggung jawabnya besar. Diluar itu semua, menemukan seseorang yang bisa diajak melangkah memikul tanggung jawab dengan tingkat kesulitan yang tinggi juga sulit. Saya sedang menyerah pada ketakutan.
Pernikahan sebagai sebuah legalisasi untuk hidup dan jalan besama dengan seorang teman. Seorang teman untuk berbagi kehidupan. Hanya berduaan.
Karenanya menikah masih lebih baik ketimbang mempunyai anak. Duh, saya begitu sayangnya dengan anak-anak kecil itu. Malaikat kecil yang polos, tanpa beban, tanpa topeng kehidupan. Pernah merasa begitu bahagia saat berhasil membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal?. Saya rela dan sering berlagak tolol hanya sekedar untuk melihat mereka tergelak-gelak:)
Tetap saja keinginana keinginan memiliki satu atau dua makhluk-makhluk itu saya tepis jauh-jauh. Saya takut. Atas nama cinta dan kasih sayang orang tua menjaga buah hatinya. Tapi pernah terpikir seandainya suatu saat nanti, sebagai orang tua, mendapati cinta dan kasih sayang sayang yang anda pikir terbaik untuk anak anda ternyata tidak untuk mereka. Saya terlalu takut seandainya nanti saya harus mengalaminya. Saya tidak siap menjadi orang tua. Saya belum siap menjadi panutan. Saya takut makhluk-makhluk kecil itu kecewa...
Menghadapi dua siklus ini, saya benar-benar masih harus belajar lebih banyak lagi tentang hidup.
Speak to us of Children.
You may give them your love but not your thoughts, for they have their own thoughts.
You may give them your love but not your thoughts, for they have their own thoughts.
(Kahlil Gibran. The Prophet)
