vendredi, octobre 20, 2006

Lebaran, Mulut, dan Hati

Banyak hal yang identik dengan Lebaran. Misalnya ketupat, mudik, shalat Ied, dan saling berkunjung ke rumah sanak saudara dan teman. Tapi satu yang menjadi ciri khas Lebaran, ritual bermaaf-maafan.

Sama halnya dengan awal bulan puasa ritual minta maaf lewat sms, forum messenger dan salam-salaman dimulai lagi, seperti tadi sore di kantor karena ini hari terakhir kita semua masuk kantor sebelum libur Lebaran.

Saya kembali termenung.

Konsep Lebaran menggambarkan Islam yang damai. Saling memaafkan dan bersilaturahmi. Tapi ditengah ritual itu, di tengah suasana Lebaran, berhadapan dengan orang-orang yang sedang bersalaman, kadang terlintas sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepala disertai perasaan yang menggelitik.

Seberapa mudah seseorang membuka pintu maaf?

Saya pernah mendengar seseorang mengatakan hanya dengan bersalaman saja kesalahan kita sudah terhapus. Hal yang buat saya terdengar sangat menyebalkan. Seolah manusia mempunyai pola pikir yang begitu mudah. Seolah manusia hanya makhluk yang sederhana. Seolah lupa bahwa manusia mempunyai sifat munafik. Seolah manusia tidak pernah memakai topeng. Seolah berpura-pura tersenyum dan berjabat tangan sambil mengatakan "maaf" adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Seolah dunia begitu lugunya...polos.

Entah kali keberapa saya mendengar orang berkomentar "ikh kaya Lebaran aja..." pada saat seseorang meminta maaf selain di hari Lebaran. Kesannya meminta maaf, yah hanya pada waktu Lebaran. Bukan saat seseorang melakukan kesalahan.

Seringkali saya tiba-tiba merasa tersedot dan terpental keluar dari suasana itu. Melihat orang-orang yang saling mengatakan "Minal Aidzin wal Faidzin" atau "Maaf lahir bathin yaaa..." rasanya terlalu sama. Semua orang mengatakan hal yang sama.

Saya terganggu....apa iya yang terucap dimulut itu sama dengan yang didalam hati? Lalu menatap Anda yang dihadapan saya...do you really mean that? if so, how cool:)

dimanche, octobre 15, 2006

Sumpelan Kuping

Satu atau dua tahun yang lalu waktu mp3, benda kecil yang bisa dibawa kemana-mana itu, sedang booming saya hanya menganggap kemajuan teknologi yang satu ini hanya sebagai angin lalu saja. Saya yang tidak sedemikian sukanya mendengarkan musik dan beranggapan percuma untuk punya apapun dari jenis mp3. Fungsinya tidak banyak, cuma mendengarkan musik dan musik. Waktu itu saya pikir tidak akan punya waktu juga untuk menyumpel kuping dengan earphone. Kalau hanya di Jakarta, dimana-mana juga bisa dengar musik tanpa perlu repot beli mp3 segala.

Lain halnya diluar negri, di London misalnya. Tinggal di zone 4 dan 5 butuh waktu lumayan lama untuk mencapai zone 1 sekalipun sudah pakai tube, apalagi pakai bis makan waktu berjam-jam untuk sampai ditempat tujuan yang berada di tengah kota. Waktu itu, jelas saja mp3 jadi suatu kebutuhan untuk menemani selama perjalanan, selain buku tentunya. Hanya saja pada perjalanan dipagi hari, buku malah cenderung membuat saya jatuh tertidur. Lagi pula disana, memakai benda-benda elektronik di kendaraan umum aman-aman saja.

Bisa dibayangkan perbedaan antara Double Decker dan Metromini atau Tube dengan Kereta ke Depok....

Namun dua bulan belakangan ini, dikantor setiap pagi, saya tanpa sadar jadi mulai sering menyumpel kuping dengar earphone tanpa tahu sebabnya. Sebenarnya tidak menyenangkan, repot. Belum lagi tidak bisa mendengar jadi bolot dan jadi terisolasi dari lingkungan sekitar. Lalu tiba-tiba saja terpikir untuk punya mp3 atau apalah yang bisa dipakai untuk menyumpel kuping.

Sambil sedikit kebingungan saya utarakan hal ini kepada seorang teman. Saya bilang, " Pengen beli mp3 dan sejenisnya gitu, tapi kok rasanya enggak penting yah. Fungsinya kurang lagian enggak suka-suka amat denger lagu". Teman saya menjawab, "Masa siy? Perasaan hampir setiap hari lo dengerin musik gitu kok." Wah, saya kaget juga. Iya yah belakangan memang saya sering menyumpal kuping untuk mendengar musik. Hmm..kenapa ya? Bukan anti dengan musik, hanya saja bingung juga dengan perubahan seperti ini. Tidak sadar pula.

Semakin dipikir saya jadi mulai menemukan jawabannya. Menyumpel kuping dengan musik sepertinya menjadi salah satu tempat saya berlindung dari hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti suara-suara yang menggangu, suara-suara judes, suara-suara galak, suara-suara sumbang, atau kalimat-kalimat yang menyakitkan..anjing menggonggong?...

Berisik!!!


Oh well...my other kind of self defense mechanism...

Jadilah saya sekarang saya punya juga mp3. Benda kecil yang tadinya hanya sekedar sumapalan kuping sampai jadi suatu kebutuhan.

Kenapa belinya yang ini? Kebetulan waktu ingin beli liatnnya yang ini. Lagipula tipis. Enggak repot kayanya...

samedi, octobre 07, 2006

Ramadhan, Bulan Kemunafikan?

Bulan yang suci, bulan menahan segala hawa nafsu sekaligus penuh pengampunan, begitu yang selama ini saya dengar setiap kali bulan Ramadhan tiba. Jadilah sejumlah sekelompok manusia yang tergabung dalam sebutan umat Islam berlomba menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Diawal bulan, biasanya, masjid dan mushala penuh sesak dengan umat muslim yang, terutama dimalam hari untuk menjalankan shalat tarawih.

Menjelang bulan puasa para umat islam ini saling meminta maaf, secara langsung atau melalui media komunikasi seperti sms (coba hitung keuntungan para provider..hmmm). Kurang lebih maksudnya ingin memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih. Pada saat menjalankan ibadah puasa umat islam pun menahan marah. Takut batal karena tidak bisa menahan emosi. Menahan napsu.

Pada sebuah akhir dari a
rgumentasi konyol teman saya membentak dengan nada tinggi mengatakan "ini bulan puasa!!!" wah? Diwaktu lain saya membaca sebuah permintaan maaf diawali dengan prolog yang buat saya sama konyolnya "its month of ramadhan time 2 hold everything..."

Konyol.

Jadilah saya kebingungan. Konsep bulan puasa yang penuh kedamaian malah jadi terlihat seperti sebuah tradisi yang tidak lebih dari sekedar berhenti sementara dari kebiasaan sehari-hari, kebiasaan buruk tentunya. Ramai-ramai minta maaf karena bulan Ramadhan. Susah payah menahan amarah lagi-lagi karena bulan Ramadhan. Jadilah bulan Ramadhan yang indah berubah menjadi bulan kemunafikan. Bulan yang konyol. Karena setelah lewat bulan Ramadhan, para umat islam pun kembali menjalani kehidupan normalnya. Mau marah boleh, mau berantem hayo juga. Tidak perlu lagi repot menahan marah karena sudah tidak puasa, tidak bikin batal...

Konyol.

Islam mengajarkan dan menganjurkan manusia untuk menjadi menjauhi hal-hal buruk seperti amarah, iri dan dengki. Islam pun mengajarkan kita untuk saling memaafkan. Jadilah, yang saya mengerti dari Islam adalah agar manusia senantiasa menjalani ajaran tersebut setiap saat BUKAN HANYA di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan sesungguhnya tidak ada bedanya dengan bulan yang lain. Bulan Ramadhan bukan waktunya manusia sibuk memakai topeng kebaikan.

Saya bukan seorang alim, bukan juga seorang pemeluk Islam yang sangat taat beragama. Saya masih banyak belajar tentang Islam. Banyak yang tidak saya mengerti. Tapi, bulan Ramadhan yang ada sekarang ini buat saya terlalu konyol.


Mungkin karena pemahaman agama saya yang begitu dangkalnya?

mardi, octobre 03, 2006

Not Again

Goodness me...
Bring back my yesterday's peaceful morning

lundi, octobre 02, 2006

Ce Matin J'ai Ressenti Une Certaine Serenite Finalement

Do you know?
I noticed something this morning
A peaceful morning I have been longing for so long

Do you know?
I noticed this morning I was able to let my heart smile

Oh well, eventually...

dimanche, octobre 01, 2006

Sakit Untuk Istirahat

Karena sakit, empat hari sudah saya terisolasi didalam kamar. Menimbulkan berbagai perasaan tersendiri. Senang bisa menghilang dari rutinitas pagi menjelang siang yang semakin lama semakin membosankan dan menyebalkan yang semakin tidak ada juntrungannya (beruntung mereka yang sudah terbebaskan..). Senang karena akhirnya bisa mencuri waktu untuk merenung sendirian. Senang karena bisa mengendurkan dan melemaskan semua otot yang selama ini tegang karena setiap hari terus berpacu dengan deadline hidup yang tidak ada habisnya, kantor, kuliah (both suck).

Seharian tidur sampai tidak sadar hari sudah berganti malam. Malam sudah menjelang pagi.

Disatu sisi saya juga mengalami kebosanan yang luar biasa. Terbiasa dengan aktifitas kerja yang tidak ada hentinya malah jadi bingung sendiri ketika terpaksa tidak bisa melakukan apa-apa. Dicoba keluar sebentar, suaranya malah langsung hilang. Belum lagi ngilu disekujur badan, kepala terasa berat, sampai susah makan.

Tidak sengaja dalam obrolan ringan dengan teman di messenger saya bilang "untung sakit, jadi bisa istirahat niy" dan dijawab "wah gw juga pernah bilang gitu, eh beneran sakit sampe 1,5 bulan dirawat"

Belakangan saya jadi berpikir jangan-jangan saya tidak sadar sudah masuk kedalam trend pola hidup dimana manusia bekerja sekeras-kerasnya dan hanya sempat beristirahat ketika mereka jatuh sakit. Oo...