lundi, juin 25, 2007

Takut Ngomong

Assertiveness:
  • Standing up for your rights and not being taken advantage of.
  • Chat you really want in a clear fashion, respecting your own rights and feelings and the rights and feelings of others.
  • Honest and appropriate expression of one's feelings, opinions, and needs.

Menjadi assertive nampaknya mudah saja, tapi pada praktiknya sulit sekali. Berbagai cara sudah dilakukan agar bisa menjadi assertive, mulai dari membaca artikel hingga mendengarkan penjelasan langsung.

Sulit. Sulit sekali apalagi bila berada diposisi yang lemah.
Saat ini, rasanya sulit sekali mengutarakan suatu keberatan yagn ingin saya sampaikan pada seseorang. Setiap ingin mengatakannya, tiba-tiba bibir terasa kaku. Keadaan ini sungguh tidak nyaman. Ketika saatnya berlalu, cuma bisa merutuki diri sendiri. "Dasar tolol, tolol!!"
Saya adalah seorang perempuan Melayu yang sudah kenyang dengan didikan kolot tentang norma kesopanan. Norma kesopanan yang mengatakan "hormat kepada yang tua", "mendahulukan kebaikan untuk orang lain", "tidak boleh berkata kasar", "sabar", "jadi perempuan harus lemah lembut" dan berjuta norma kesopanan lainnya. Semua omong kosong yang akhirnya menjerumuskan kebanyakan perempuan (khususnya Melayu) seringkali tidak bisa mengutarakan . Padahal sudah tahu kerugiannya, tapi tetap saja sulit untuk merealisasikan assertive.
Salah satu faktor penyebab utama tidak mudah bagi perempuan untuk bisa mengutarakan pendapatnya adalah lingkungan. Selanjutnya adalah melawan rasa malu dan takut.
Saat ini saya sedang bersusah payah untuk berpikir secara positif, merubah segala steriotype kolot yang terlanjut tertanam sejak kecil, agar bisa mengutarakan suatu keberatan.

mercredi, juin 20, 2007

Bukan Tangan Manusia yang Berkehendak

Gara-gara bintitan, saya lega.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup dengan penyakit yang masih terus menempel di mata sebelah kiri, uveitis. Selama itu seharusnya saya masih harus mengkonsumsi obat untuk perbaikan kondisi mata. Karena satu dan lain hal, saya berhenti menggunakan obat tersebut tanpa rekomendasi dokter. Dan karena satu dan lain hal juga, saya tidak memeriksakan mata ke dokter.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup seperti biasa. Lupa dengan kondisi mata, namun kadang sering juga dihampiri bayangan gelap bahwa penyakit yang masih menempel itu entah sedang bergerak lagi atau entahlah.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup dengan bersenang-senang saja. Konsentrasi dengan hal-hal baru, walau sesungguhnya dalam hati tidak siap juga bila saatnya tiba mendengar sebuah ultimatum yang keluar dari bibir dokter.

Bintitan yang tidak kunjung sembuh, membawa saya kembali ke ruang praktek dokter.

Memasuki gedung klinik, segala kenangan pada masa itu muncul. Lucu, karena rasanya kangen. Sendirian melewati berbagai tes sebelum bertemu dengan dokter, duduk diruang tunggu, sampai akhirnya bertemu dengan dokter, Dr.Rifna.

Dulu waktu di rawat di RS.Universitas Kebangsaan Malaysia, KL, bersama dengan Prof.Muhaya, ia banyak membantu saya melewati masa kritis. Dengan Dr.Rifna, saya bisa banyak bertanya dan berbicara, tak jarang ia juga sering berkunjung bukan dalam kapasitas "doctor visit" tapi sekedar memberi semangat.

Pemeriksaan jadi terfokus pada kondisi mata saya ketimbang maksud awal, bintitan. Tanpa rencana, saya pun kembali menjalani pemeriksaan khusus, mulai dari tetes mata yang perih sampai akhirnya difoto.

Hasilnya, stabil.

Tanpa pengawasan dokter, tanpa obat, yang berkehendak memang bukan tangan manusia.

lundi, juin 04, 2007

Perceraian

Kata perceraian hampir selalu menjadi momok bagi setiap manusia. Ibu saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang anti perceraian. Sedangkan saya, justru sebaliknya.

Menyikapi perceraian para artis, satu hal yang paling sering disorot masyarakat dan pakar psikologi adalah dampak kejiwaan anak. Kehilangan salah satu figur orang tua akibat perceraian seringkali dijadikan kambing-hitam sebagai salah satu penyebab kenakalan anak. Akhirnya setiap orang yang mengambil langkah cerai untuk menyelesaikan masalah perkawinannya, dianggap salah karena tidak memikirkan masa depan anak. Ini belum termasuk pandangan yang menyudutkan bagi mereka yang menyandang status janda.

Buat saya perceraian sah saja. Perceraian adalah langkah yang akan saya ambil bila suatu saat nanti pernikahan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tentu saja keputusan tersebut diambil dengan alasan kuat yang telah melewati pertimbangan dan masukan dari berbagai pihak.

Alasan utamanya, justru, karena anak.

Pada saat pernikahan tidak berjalan dengan semestinya, kondisi rumah bukan lagi tempat yang kondusif bagi anak. Melihat orang tua yang terus bertengkar dan saling caci maki, atau sebaliknya saling berdiaman, tentulah bukan pengalaman dan pemandangan yang baik untuk anak. Pada kasus kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya menimpa perempuan, anak juga terpaksa terus menyimak kekerasan fisik dan mental. Yang semakin membuat parah mana kala, sang ibu tidak berani melawan dan terus membiarkan kekerasan terjadi didalam rumah.

Saya tidak pernah mengharapkan dan meniatkan terjadinya perceraian, namun bercerai bukanlah hal tidak mungkin saya lakukan.