mercredi, juin 20, 2007

Bukan Tangan Manusia yang Berkehendak

Gara-gara bintitan, saya lega.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup dengan penyakit yang masih terus menempel di mata sebelah kiri, uveitis. Selama itu seharusnya saya masih harus mengkonsumsi obat untuk perbaikan kondisi mata. Karena satu dan lain hal, saya berhenti menggunakan obat tersebut tanpa rekomendasi dokter. Dan karena satu dan lain hal juga, saya tidak memeriksakan mata ke dokter.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup seperti biasa. Lupa dengan kondisi mata, namun kadang sering juga dihampiri bayangan gelap bahwa penyakit yang masih menempel itu entah sedang bergerak lagi atau entahlah.

Lebih dari 6 bulan, saya menjalani hidup dengan bersenang-senang saja. Konsentrasi dengan hal-hal baru, walau sesungguhnya dalam hati tidak siap juga bila saatnya tiba mendengar sebuah ultimatum yang keluar dari bibir dokter.

Bintitan yang tidak kunjung sembuh, membawa saya kembali ke ruang praktek dokter.

Memasuki gedung klinik, segala kenangan pada masa itu muncul. Lucu, karena rasanya kangen. Sendirian melewati berbagai tes sebelum bertemu dengan dokter, duduk diruang tunggu, sampai akhirnya bertemu dengan dokter, Dr.Rifna.

Dulu waktu di rawat di RS.Universitas Kebangsaan Malaysia, KL, bersama dengan Prof.Muhaya, ia banyak membantu saya melewati masa kritis. Dengan Dr.Rifna, saya bisa banyak bertanya dan berbicara, tak jarang ia juga sering berkunjung bukan dalam kapasitas "doctor visit" tapi sekedar memberi semangat.

Pemeriksaan jadi terfokus pada kondisi mata saya ketimbang maksud awal, bintitan. Tanpa rencana, saya pun kembali menjalani pemeriksaan khusus, mulai dari tetes mata yang perih sampai akhirnya difoto.

Hasilnya, stabil.

Tanpa pengawasan dokter, tanpa obat, yang berkehendak memang bukan tangan manusia.