lundi, juin 04, 2007

Perceraian

Kata perceraian hampir selalu menjadi momok bagi setiap manusia. Ibu saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang anti perceraian. Sedangkan saya, justru sebaliknya.

Menyikapi perceraian para artis, satu hal yang paling sering disorot masyarakat dan pakar psikologi adalah dampak kejiwaan anak. Kehilangan salah satu figur orang tua akibat perceraian seringkali dijadikan kambing-hitam sebagai salah satu penyebab kenakalan anak. Akhirnya setiap orang yang mengambil langkah cerai untuk menyelesaikan masalah perkawinannya, dianggap salah karena tidak memikirkan masa depan anak. Ini belum termasuk pandangan yang menyudutkan bagi mereka yang menyandang status janda.

Buat saya perceraian sah saja. Perceraian adalah langkah yang akan saya ambil bila suatu saat nanti pernikahan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tentu saja keputusan tersebut diambil dengan alasan kuat yang telah melewati pertimbangan dan masukan dari berbagai pihak.

Alasan utamanya, justru, karena anak.

Pada saat pernikahan tidak berjalan dengan semestinya, kondisi rumah bukan lagi tempat yang kondusif bagi anak. Melihat orang tua yang terus bertengkar dan saling caci maki, atau sebaliknya saling berdiaman, tentulah bukan pengalaman dan pemandangan yang baik untuk anak. Pada kasus kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya menimpa perempuan, anak juga terpaksa terus menyimak kekerasan fisik dan mental. Yang semakin membuat parah mana kala, sang ibu tidak berani melawan dan terus membiarkan kekerasan terjadi didalam rumah.

Saya tidak pernah mengharapkan dan meniatkan terjadinya perceraian, namun bercerai bukanlah hal tidak mungkin saya lakukan.