vendredi, août 24, 2007

Pernikahan

Pagi ini lagi tidak ada kerjaan (seperti biasanya). Browsing sana sini, lihat-lihat banyak hal tidak penting. Buka Friendster, yang hampir semuanya adalah teman-teman Indonesia, lalu lihat profile dan foto-foto orang lain. Di sekitar umur saya ini, 26, foto-foto di Friendster teman isinya kalau bukan foto sedang akad nikah, suasana resepsi, atau sedang di berada resepsi teman plus baju seragam dari mempelai.

Sore ini lagi tidak ada kerjaan (lagi). Browsing sana sini (lagi), kali ini salah satu yang saya buka Facebook, yang isinya didominasi teman-teman diluar Indonesia. Setelah approve sana sini, (lagi-lagi) lihat profile orang lain. Kali ini lihat foto seorang teman asal Kanada yang dulunya pernah tinggal selama 6 bulan dengan saya dan keluarga. Ada foto pernikahan dua orang temannya.

Menarik.

Mengingat foto-foto pernikahan teman-teman di Indonesia, kali ini saya hanya melihat foto-foto pernikahan dengan latar belakang yang sangat sederhana. Akad nikah dilangsunjan ditempat terbuka. tanpa banyak dekorasi. Sedangkan resepsi terlihat jelas dilangsungkan disebuah ruangan dengan kapasitas kurang dari 200 orang (mungkin lebih kecil dari itu). Selain hanya ruangan kecil, juga telihat langit-langit yang tidak terlalu tinggi, dengan dekor seadanya. Mempelai wanita hanya menggunakan gaun pengantin putih seperti biasa Anda lihat di film-film, sedangkan mempelai pria hanya menggunakan jas dan dasi, seperti eksekutif muda di kantor. Selebihnya, tampak para undangan yang mayoritas seumur dengan pengantin, alias teman-teman pengantin, bergembira dengan pakaian sehari-hari yang sedikit lebih rapih berupa baju terusan dan kemeja dengan dasi. Salah seorang teman penganti bahkan ada yang hanya menggunakan sendal datar (teplek).

Foto pernikahan kedua berlangsung di tepi pantai. Dengan latar belakang pantai yang tidak ada istimewanya, tanpa dekorasi. Seperti foto pertama mempelai menggunakan gaun pengantin dan jas. Kali ini, teman-teman pengantin menggunkanan pakaian yang lebih santai dari foto pernikahan pertama. Resepsi juga dilangsungkan di ruangan dengan kapasitas kecil. Dengan dekorasi seadanya.At least the bride can move easily:).
Walaupun jadi berpikir-pikir, nantinya pernikahan saya akan berlangsung seperti pernikahan di Indonesia pada umumnya, atau tepatnya Jakarta.
Edan. Saya, maksudnya

jeudi, août 23, 2007

Berhenti Kerja

Saat ini, kurang lebih saya telah bekerja selama 7 tahun di empat tempat yang berbeda. 4 tahun pertama, sejak kuliah D3 hingga lulus, pernah menjadi guru bahasa Inggris di berbagai TK-SD Jakarta. Selanjutnya, sempat pula magang selama tiga bulan jadi assistant teacher di sebuah pre-school di London. Setelah itu, balik ke Jakarta bekerja sebagai Media Tracker Officer di sebuah Public Relation agensi di bilangan Senopati, kurang dari setahun. Dan akhirnya jadi sekretaris di sebuah perusahaan elektronik asal Korea.

Kecuali magang yang mengajukan aplikasi sendiri, sisanya info atau ajakan dari teman. Pada saat memutuskan untuk berhenti bekerja hampir selalu bukan karena ada tawaran lebih menarik. Walaupun sudah diniatkan berkali-kali, selalu saja berhenti tanpa alasan better offer.

Pindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain bukan hal yang mudah. Apalagi bagi saya yang suka terlibat ikatan emosional dengan tempat kerja.

Empat tahun mengajar dan berhubungan dengan little rascal adalah pekerjaan yang paling menyenangkan. Kebahagian nomor satu adalah berhasil buat mereka tertawa terbahak-bahak. Berhenti dari pekerjaan ini cukup bertahap. Pertama, di akhir tahun ajaran mendadak harus berhenti karena keikutsertaan dalam ajang Abnon (dun even bother asking why..). Kedua kalinya karena sakit yang lebih dari dua bulan. Walhasil, berhenti mengajar sedikit lebih mudah karena keduanya tidak direncanakan terlebih dahulu. Padahal, keterikatan emosionalnya justru paling kuat.

Pekerjaan kedua jauh lebih mudah. Ikatan emosionalnya sangat minim, mungkin disebabkan perbedaan budaya para Londoners yang begitu individualis dan jangka waktu kerja yang memang cukup singkat.

Yang agak repot, berhenti dari pekerjaan ketiga. Awal masuk lingkungan kerja sangat kodusif dan menyenangkan. Setiap pagi selalu "tegangan tinggi" karena tumpukan deadlines dengan boss yang terbiasa dengan disiplin tinggi. Namun, rasanya tetap menyenangkan meskipun banyak yang mengeluh dengan gaya kepemimpinan disiplin tinggi. Saat itu kita semua sama, tidak ada yang berbeda. Walaupun ada, tidak signifikan. Walhasil, ikatan emosionalnya jadi lumayan kuat.

Pekerjaan ketiga bisa dibilang lebih banyak tidak untungnya dari pada untungnya. Dari gaji yang kecil, jam kerja yang seharusnya dari 6-11 pagi tapi bisa lembur hingga 10 malam (bahkan ada yang sampai tidur dikantor), kesenjangan antara status part dan full timer, hingga yang cukup fenomenal saat outing kantor, yang cuma ke Bali saja, tidak melibatkan para part-timer.

Keuntungannya? Tidak lebih dari kedekatan dari orang-orang yang sama-sama merasakan ke-tidakuntung-an tersebut.

Akhirnya berhenti juga, setelah melewatkan beberapa tawaran yang lebih baik. Alasannya, karena si satu-satunya keuntungan sudah tidak ada lagi. Kebersamaan berubah menjadi kepentingan individu. Yang tadinya teman jadi orang lain, stranger.

Berada di pekerjaan keempat, ikatannya lebih kuat. Karena hubungan kerjanya lebih one and one, antara Presdir dengan Sekretaris. Di kantor yang berhubungan langsung dengannya sedikit. Yang paling intens bertemu, ya saya. Hal-hal personal seperti lelah yang tahu, ya saya.


Selain itu, boss saya ini pengertiannya tidak tanggung-tanggung. Dari ijin pulang lebih dulu untuk kuliah malam, pemilihan tempat makan non-alkohol demi saya yang muslim, hingga waktu-waktu yang disempat-sempatkan untuk bisa bicara lebih banyak dalam rangka membangun hubungan kerja yang lebih baik.
Sekarang, belum ada rencana berhenti. Hanya saja suatu saat nanti, jelas akan lebih berat daripada sebelumnya. Solusinya? Mungkin tunggu sampai masa waktu kerja si boss selesai.

Duh..

mercredi, août 08, 2007

Saat Mengeluh dan Berbangga

Suatu hari (dan hari-hari berikutnya) seorang teman, yang baru mulai bekerja, bercerita (lagi dan lagi) tentang pekerjaannya. Pertama, ia mengatakan pekerjaanya benar-benar menyita waktu hingga ia tak lagi sempat melakukan hal-hal yang dulu bisa dilakukan sebelum ia bekerja. Banyak yang harus dipikirkan, katanya, dari klien yang cerewet, pegal betis karena macet dijalan, hingga hal-hal kecil lainnya yang menyangkut urusan kerja. Tak hanya itu, ia juga seringkali harus pergi meeting dengan klien di luar kantor. Meeting seringkali diadakan di cafe dan restaurant. Sudah menyita waktu, harus bolak balik sana sini, makan pun terpaksa harus di cafe dan restaurant tersebut. Sekalipun on company's expense, sebal rasanya karena makanan mahal macam sushi, lasagna, dan lainnya itu bukan makanan, menurutnya.

Lelah, capek, sebal katanya berkali-kali.

Di lain waktu, supir kantor saya berceloteh banyak tentang selera makan boss saya. Sudah mahalnya tidak kira-kira, aneh pula rasanya, katanya. Ceritanya, suatu hari kalau biasanya para supir hanya menuggu, kali itu mereka diajak makan direstaurant tempat boss saya biasa makan. "Walaupun dibayarin kantor, ogah makan disana, aneh, aneh, aneh, ga enak, ga enak" diulang dan diulang lagi cerita ini sambil tertawa-tawa.

Karenanya seringnya cerita-cerita yang sama diulang-ulang, saya jadi bingung. Apa sih maksudnya :)

mercredi, août 01, 2007

Si Busuk dan Si Mulut Sampah

Ini sudah yang kedua kalinya.

j*** f****: halo cewek penyakitan...
j*** f****: yg katanya kalo stress bakal bikin sakit matanya kumat lagi
j*** f****: hahahaha

Malvin, "Saudara gw yang buta dan penyakitan itu"

Sebelumnya, begitu kata seorang sepupu tentang saya pada temannya. Yang pertama saya pikir slip of a tongue. Yang kedua..I start to doubt it.

Mencoba berbijaksana, kejadian pertama saya hanya sikapi dengan menjauh saja. Saya pikir, tidak ada gunanya berbicara dengan orang berhati busuk, bermulut sampah macam ini.

Nyatanya, ketika hal ini terbahas tanpa sengaja sepupu saya ini malah bingung dan tidak ingat sama sekali. Padahal, saya sakitnya minta ampun.

Belajar dari pengalaman diatas, pada kasus kedua langsung saja saya utarakan yang saya rasakan. Entahlah mau dibilang sensitive atau apapun. Bagi saya, bila ini sebuah becandaan, entah dimana letak lucunya.

Di lain waktu

Si sepupu pernah bertanya, "kenapa ya? Yang uangnya banyak (pekerjaan) selalu ke elo? padahal lo cuma d3?"
Dijawab dalam hati, "Mungkin karena yang membedakan bukan d3 atau s1-nya, tapi sebusuk apa hati masing-masing orang? Mungkin karena saya tidak berhati busuk dan dengki macam Anda?" Maybe..just maybe.


Fakta- fakta:
  1. Uveitis yang pernah saya derita selama kurang lebih 6 bulan, berakhir dengan hilangnya penglihatan satu mata.
  2. Si sepupu adalah orang yang paling tahu apa yang saya hadapi, karena dia adalah orang yang dari pertama hingga akhir mengurus saya ketika saya sakit.
  3. Orang kedua adalah calon kakak ipar.
  4. Keduanya sedang dalam proses studi untuk jenjang S2.