jeudi, août 23, 2007

Berhenti Kerja

Saat ini, kurang lebih saya telah bekerja selama 7 tahun di empat tempat yang berbeda. 4 tahun pertama, sejak kuliah D3 hingga lulus, pernah menjadi guru bahasa Inggris di berbagai TK-SD Jakarta. Selanjutnya, sempat pula magang selama tiga bulan jadi assistant teacher di sebuah pre-school di London. Setelah itu, balik ke Jakarta bekerja sebagai Media Tracker Officer di sebuah Public Relation agensi di bilangan Senopati, kurang dari setahun. Dan akhirnya jadi sekretaris di sebuah perusahaan elektronik asal Korea.

Kecuali magang yang mengajukan aplikasi sendiri, sisanya info atau ajakan dari teman. Pada saat memutuskan untuk berhenti bekerja hampir selalu bukan karena ada tawaran lebih menarik. Walaupun sudah diniatkan berkali-kali, selalu saja berhenti tanpa alasan better offer.

Pindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain bukan hal yang mudah. Apalagi bagi saya yang suka terlibat ikatan emosional dengan tempat kerja.

Empat tahun mengajar dan berhubungan dengan little rascal adalah pekerjaan yang paling menyenangkan. Kebahagian nomor satu adalah berhasil buat mereka tertawa terbahak-bahak. Berhenti dari pekerjaan ini cukup bertahap. Pertama, di akhir tahun ajaran mendadak harus berhenti karena keikutsertaan dalam ajang Abnon (dun even bother asking why..). Kedua kalinya karena sakit yang lebih dari dua bulan. Walhasil, berhenti mengajar sedikit lebih mudah karena keduanya tidak direncanakan terlebih dahulu. Padahal, keterikatan emosionalnya justru paling kuat.

Pekerjaan kedua jauh lebih mudah. Ikatan emosionalnya sangat minim, mungkin disebabkan perbedaan budaya para Londoners yang begitu individualis dan jangka waktu kerja yang memang cukup singkat.

Yang agak repot, berhenti dari pekerjaan ketiga. Awal masuk lingkungan kerja sangat kodusif dan menyenangkan. Setiap pagi selalu "tegangan tinggi" karena tumpukan deadlines dengan boss yang terbiasa dengan disiplin tinggi. Namun, rasanya tetap menyenangkan meskipun banyak yang mengeluh dengan gaya kepemimpinan disiplin tinggi. Saat itu kita semua sama, tidak ada yang berbeda. Walaupun ada, tidak signifikan. Walhasil, ikatan emosionalnya jadi lumayan kuat.

Pekerjaan ketiga bisa dibilang lebih banyak tidak untungnya dari pada untungnya. Dari gaji yang kecil, jam kerja yang seharusnya dari 6-11 pagi tapi bisa lembur hingga 10 malam (bahkan ada yang sampai tidur dikantor), kesenjangan antara status part dan full timer, hingga yang cukup fenomenal saat outing kantor, yang cuma ke Bali saja, tidak melibatkan para part-timer.

Keuntungannya? Tidak lebih dari kedekatan dari orang-orang yang sama-sama merasakan ke-tidakuntung-an tersebut.

Akhirnya berhenti juga, setelah melewatkan beberapa tawaran yang lebih baik. Alasannya, karena si satu-satunya keuntungan sudah tidak ada lagi. Kebersamaan berubah menjadi kepentingan individu. Yang tadinya teman jadi orang lain, stranger.

Berada di pekerjaan keempat, ikatannya lebih kuat. Karena hubungan kerjanya lebih one and one, antara Presdir dengan Sekretaris. Di kantor yang berhubungan langsung dengannya sedikit. Yang paling intens bertemu, ya saya. Hal-hal personal seperti lelah yang tahu, ya saya.


Selain itu, boss saya ini pengertiannya tidak tanggung-tanggung. Dari ijin pulang lebih dulu untuk kuliah malam, pemilihan tempat makan non-alkohol demi saya yang muslim, hingga waktu-waktu yang disempat-sempatkan untuk bisa bicara lebih banyak dalam rangka membangun hubungan kerja yang lebih baik.
Sekarang, belum ada rencana berhenti. Hanya saja suatu saat nanti, jelas akan lebih berat daripada sebelumnya. Solusinya? Mungkin tunggu sampai masa waktu kerja si boss selesai.

Duh..