samedi, septembre 08, 2007

Keciaaaaaaan, Ga Punya Idup

Pada saat bertemu dengan hal yang tidak menyenangkan, umumnya setiap manusia mengeluh. Termasuk saya.

Wajar, kalau tidak mengeluh mungkin sudah mati rasa namanya.

Dari -/+7thn yang lalu, 2 tahun ngajar pagi di berbagai tk di daerah pluit, serpong, pondok indah, sampai rawamangun. Siang kuliah ke Depok sampai malam, kadang masih lanjut les di daerah Pangpol. Lulus kuliah, tetap ngajar kali ini seharian, masih diberbagai tk yang tersebar disana sini-nya ujung Jakarta. Panas, walaupun pakai jemputan tapi AC mobil kalah kuat dengan muatan guru-guru yang berdesakan. Sampai di sekolah (tempat kerja), masih harus berhadapan dengan ruang kelas yang panas.

3 bulan tinggal di London pontang -panting menyiasati hidup. Beli tiket bulanan tube hanya untuk zone 1 sisanya ditempuh dengan bis menuju zone 5. Kedinginan, jalan jauh, perjalanan yang lama, kaki pegal-pegal sambil buang jauh-jauh bayangan tangan tukang urut di Jakarta. Makan paket hemat McD setiap hari demi bela-belain Cheeseburger yang seharga 99p. Walhasil pulang-pulang gendut lemak.

Kurang lebih setahun kerja sebagai media tracker. Mulai kerja tepat jam 6 pagi. Yang seharusnya pulang jam 11 pagi kadang bisa lembur sampai jam 10 malam. Kompensasi pas-pasan. Status hanya part-timer, nyaris tanpa fasilitas, bos super disiplin, sabtu minggu masih harus masuk.

Terkena uveitis. Merasakan yang namanya tidak bisa melihat selama 3 bulanan. Bolak-balik rumah sakit sambil dituntun sana sini, ketemu dokter sok tahu yang buat mata yang sudah membaik jadi buruk lagi, berteman dengan suntikan tes darah, gula darah, dan insulin, dan berbagi tes kesehatan seperti MRI dan cityscan yang pernah buat saya masuk UGD setelah menjalani pemeriksaan tersebut. Ngotot pulang dari perawatan di Malaysia saat masih dalam keadaan setengah stabil, untuk ikut final test di kampus. Dituntun dan ditemani saat kuliah dan ujian. Belajar dari teman dan saudara yang membacakan bahan ujian.

Sekarang bekerja sebagai sekretaris yang sedikit bekerja tapi mendapat limpahan fasilitas, diantaranya supir pribadi, dan kompensasi yang lebih baik. Jam kerja masih sama saja. berangkat antara jam 5.30-6.00 pagi, pulang kadang lewat jam 7 atau kalau sedang mengejar jam kuliah jam 6.30, naik ojek slipi-pejaten berangkat jam 6. Sampai kampus dengan rasa patah pinggang, lanjut kuliah sampai jam 9.30an.

Ngeluh..yah pernah

Hari Sabtu, pagi ini, saya ada dikantor masuk kerja. Tenang-tenang seperti biasanya. Tahu-tahu saya dikasihani dan dikatakan tidak punya hidup.

Kok dikasihani, padahal ngeluh ya seperlunya. Kok dibilang tidak punya hidup, padahal this is the kind of life I have planned for.

Glek...I have a good life and heading to a great life. I'm doing just fine and not feel the need of any pitty.

So..what is wrong wit that lady?
Projection?

ps: nulis sambil emosi lumayan tinggi heehe